makalah filsafat pragmatisme
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kendati pragmatisme merupakan filsafat Amerika, metodenya bukanlah
sesuatu yang sama sekali baru, Socrates sebenarnya ahli dalam hal ini, dan
Aristoteles telah menggunakannya secara metodis John Locke (1632 - 1704),
George Berkeley (1685 -1753), dan Dayid Hume (1711 - 1776) mempunyai sumbangan
yang sangat berarti dalam pemikiran pragmatis ini (Copleston, 1966: 342). Dari
segi historis, abad ke-19 di tandai dengan skeptisisme yang di tiupkan oleh
teorievolusi Darwin. Nilai religius dan spiritual menjadi, dipertanyakan.
Filsafat Unitarian, suatu aliran pemikiran yang hanya menerima ke Esaan, Tuhan
yang bergantung pada argumen-argumen tentang teologi kodrati dan perwahyuan,
lemah dalam membela diri terhadap evolusi onisme. Karena kaum ilmuan
menerima teori evolusi Darwin, filosof-filosof Unitarian menjadi tenggelam. Lebih lagi karena
keyakinan bahwa pemikiranmengenai proses seleksi dan evolusi alamiah berakhir
dengan atheisme dan bahwamanusia hanya bisa membenarkan eksistensinya dengan
agama, mereka tidak dapat mengintegrasikan hipotesis evolusi ke dalam keyakinan
mereka (Bukhart, dalam mohammad, 2014:5).
Pada saat yang sama, suatu kelompok pemikir dari Harvard menemukan
suatu jalan untukmenghadapi krisis teologi ini tanpa mengorbankan ajaran agama
yang essensial.Kelompok ini melihat bahwa suatu interpretasi yang mekanis
tentang teori Darwindapat menghancurkan agama dan dapat mengarah ke aliran
ateisme yang fatalistis.Mereka khawatir bahwa interpretasi ini dapat berakhir
dengan sikap yang pasif, apatis,bunuh diri dan semacamnya. Karena itu mereka
menganjurkan agar evolusi Darwin dipahami secara lain. Dan karena filsafat
Unitarian sendiri hampir mati, kelompok iniyang dikenal dengan
"Perkumpulan Metafisika", menyusun prinsip-prinsip pragmatism baik
secara bersama maupun secara individual dalam menghadapi evolusi Darwin
(Kucklick,dalam Mohammad, 2014: 5).
Istilah pragamatisme sebenarnya diambil oleh C.S. Peirce dari Immanuel
Kant. Kant sendiri memberi nama "keyakinan-keyakinan hipotesa tertentu
yang mencakup penggunaan suatu sarana yang merupakan suatu kemungkinan real
untuk mencapai tujuan tertentu”. Manusia memiliki keyakinan-keyakinan yang
berguna tetapi hanya bersifat kemungkinan belaka, sebagaimana dimiliki oleh seorang
dokter yang memberi resep untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Tetapi Kant
baru melihat bahwa keyakinan-keyakinan pragmatis atau berguna seperti itu dapat
di terapkan misalnya dalam penggunaan obat atau semacamnya.la belum menyadari
bahwa keyakinan seperti itu juga cocok untuk filsafat. Karena Peirce sangat
tertarik untuk membuat filsafat dapat diuji secara ilmiah atau eksperie mental,
ia mengambil alih istilah pragmatisme untuk merancang suatu filsafat yang mau
berpaling kepada konsekwensi praktis atau hasil eksperimental sebagai ujian
bagi arti dan validitasidenya Filsafat tradisional, menurut Peirce, sangat
lemah dalam metode yang akan memberi arti kepada ide-ide filosofis dalam rangka
eksperimental serta metode yang akan menyusul dan memperluas ide-ide dan
kesimpulan-kesimpulan sampai mencakup fakta-fakta baru.
Metafisika dan logika tradisional hanya mengajukan teori-teori yang
tertutup dan murnitentang arti, kebenaran, dan alam semesta. Pendeknya,
Filsafat tradisional tidakmenambah sesuatu yang baru. Dengan sistemnya yang
tertutup tentang kebenaran yangabsolut, filsafat tradisional lebih menutup
jalan untuk diadakan penyelidikan danbukannya membawa kemajuan bagi filsafat
dan ilmu pengetahuan
Dalam rangka itulah Peirce mencoba merintis suatu pemikiran
filosofis baru yang agaklain dari pemikiran filosofis
tradisional. Pemikiran filosofis yang baru ini diberi nama
Pragmatisme. Pragmatisme lalu dikena pada permulaannya sebagai usaha Peirce
untuk merintis suatu metode bagi pemikiran filosofis sebagaimana yang
dikehendaki di atas.
Pragmatisme merupakan bagian sentral dari usaha membuat filsafat
tradisional menjadiilmiah. Tetapi untuk merevisi seluruh pemikiran filosofis
tradisional bukan suatu halyang mudah. Untuk maksud benar-benar dibutuhkan
revisi dalam logika dan metafisikayang merupakan dasar filsafat.
Dengan demikian, progmatisme muncul sebagai usaha refleksi analitis
dan filosofismengenai kehidupan Amerika sendiri yang dibuat oleh orang Amerika
di Amerika sebagai suatu bentuk pengalaman mendasar, dan meninggalkan jejaknya
pada setiap kehidupan Amerika. Oleh karena itu ada suatu alasan yang kuat untuk
meyakini bahwa pragmatisme mewakili suatu pandangan asli Amerika tentang hidup
dan dunia. Atau barangkali lebih tepat kalau dikatakan bahwa pragmatisme mengkristalisasikan
keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang telah menentukan perkembangan
Amerikasebagaimana menggejala dalam berbagai aspek kehidupannya, misalnya dalam
penerapanteknologi, kebijaksanaan-kebijaksanaan politik pemerintah, dan sebagainya.(Mohammad,
2004:3-4).
B. Rumusan Masalah
1.
Pengertian pragmatisme
2.
Metafisika Pragmatisme
3.
Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme
4.
Kritik-kritik terhadap Pragmatisme
5.
Implementasi Aliran Filsafat
Pragmatisme
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pragmatisme
Pragmatisme
berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan.
Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang
membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang
bermanfaat secara praktis.2 Aliran ini bersedia menerima segala sesutau, asal
saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran
mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa
akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme
adalah “manfaat bagi hidup praktis”.
Kata
pragmatisme sering sekali diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini
biasanya dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang
pragmatis, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis. Pengertian
seperti itu tidak begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya,
tetapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.
Pragmatisme
adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu
ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu
konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat
tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu
dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua.
Pragmatisme
dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari
gagasan asal yang sama. Kendati demikian, ada tiga patokan yang disetujui
aliran pragmatisme yaitu, (1) menolak segala intelektualisme, dan (2)
absolutisme, serta (3) meremehkan logika formal.
B. Metafisika
Pragmatisme
Filsafat
pragmatisme secara umum dipandang berupaya menengahi pertikaian idealisme dan
empirisme serta berupaya melakukan sintesis antara keduanya. Pragmatisme
mendasarkan dirinya pada metode filsafat yang memakai sebab-sebab praktis dari
pikiran serta kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenaran.
Di sini pandangan William James tentang pragmatism agaknya mewakili pertanyaan
kita tentang pragmatism tersebut. pragmatisme adalah sikap memandang jauh
terhadap benda-benda pertama, prinsip-prinsip, serta kategori-kategori yang
dianggap sangat penting untuk melihat ke depan pada benda-benda terakhir
berdasarkan akibat dan fakta-fakta.
Dalam
penjabaran William di atas, kita bisa mengetahui betapa filsafat pragmatisme
selalu menjadi pemikiran filsafat yang didasarkan pada metode dan pendirian
ketimbang pada doktrin filsafat yang bersifat sistematis. Oleh karena itu,
pragmatisme kerap pula disadari sebagai upaya-upaya penyelidikan eksperimental
berdasarkan metode sains modern. Pengalaman menjadi sesuatu yang begitu
fundamental dan begitu menentukan.
Para
pragmatis selalu menolak jika filsafat mereka dikatakan berlandaskan suatu
pemikiran metafisik sebagaimana metafisika tradisional yang selalu memandang
bahwa dalam hidup ini terdapat sesuatu yang bersifat absolute dan berada di
luar jangkauan pengalaman-pengalaman empiris. Dari itu, bagi mereka seandainya
pun realitas adikodrati memang ada, mereka berasumsi bahwa manusia tidak akan
mampu mengetahui hal itu.
Pemikiran
ini menunjukkan bahwa epistemology pragmatisme sepenuhnya berbasis pendekatan
empiris : apa yang bisa dirasakan itulah yang benar. Artinya, akal, jiwa, dan
materi adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebab hanya dengan
mengalamilah pengetahuan itu dapat diserap. Pengalaman menjadi parameter ketika
sesuatu dapat diterima kebenarannya. Oleh karena itu, para pragmatis tidak
nyaris pernah mendasarkan satu hal kebenaran. Menurut mereka, pengalaman yang
pernah mereka alami akan berubah jika realitas yang mereka alami pun berubah.
Corak
paling kuat dari pragmatism adalah kuatnya pemikiran tentang konsep kegunaan. Makna
kegunaan dalam pragmatisme lebih ditetapkan pada kebenaran sains, bukan pada
hal-hal bersifat metafisik. Maka, dalam pragmatisme pengetahuan tidak selalu
mesti diidentikkan dengan kepercayaan, tetapi kerap menjadi dua hal yang sama
sekali terpisah. Kebenaran yang mungkin dianggap perlu dipercayai (to
believe) bagi para pragmatis selalu menjadi sesuatu hal bersifat
professional atau pribadi dan itu tidak perlu dikabarkan pada public.
Sedangkan, hal-hal yang diangap perlu diketahui haruslah selalu dikabarkan atau
didemonstrasikan pada pengamat yang qualified dan tak berpihak. Kepercayaan
memang ada dalam pengetahuan meski banyak pula kepercayaan tidak akan ditemukan
siapapun di banyak pengetahuan.
Pandangan-pandangan
itu semuanya terangkai oleh konsep kegunaan dan fungsi pragmatis. Oleh karena
itu, para pragmatis kerap mengungkapkan betapa apa yang kita mesti ketahui
keraplah bukan sesuatu yang mesti kita percayai. Dalam sisi yang lain, sebab
konsep kegunaan, apa yang ita percayai tidak selalu menjadi sesuatu hal yang
pragmatisme selalu hadir menjadi relative dan kasuistik. Sebuah kebenaran yang
dipandang benar-benar valid dan berguna, di waktu yang lain bisa menjadi
sesuatu hal yang sama sekali mesti dilupakan.
C. Tokoh-tokoh
Filsafat Pragmatisme
Filosuf
yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John
Dewey.
1.
William
James (1842-1910 M)
William
James lahir di New York pada tahun 1842 M, anak Henry James, Sr. ayahnya adalah
orang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikir yang kreatif. Selain kaya,
keluarganya memang dibekali dengan kemampuan intelektual yang tinggi.
Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya.
Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Pokoknya, kehidupan James penuh
dengan masa belajar yang dibarengi dengan usaha kreatif untyuk menjawab
berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan.
Karya-karyanya
antara lain, Tha Principles of Psychology (1890), Thee Will to Believe (1897),
The Varietes of Religious Experience (1902) dan Pragmatism (1907). Di dalam
bukunya The Meaning of Truth, Arti Kebenaran, James mengemukakan bahwa tiada
kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri
sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita
berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam pengembangan itu
senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang kita anggap benar dapat
dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, tidak ada kebenaran
mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran (artinya, dalam bentuk jamak) yaitu
apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah
oleh poengalaman berikutnya.
Nilai
pengalaman dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya artinya
tergantung keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu.
Pertimbangan itu benar jikalau bermanfaat bagi pelakunya, jika memperkaya hidup
serta kemungkinan-kemungkinan hidup.
Di dalam
bukunya, The Varietes of Religious Experience atau keanekaragaman pengalaman
keagamaan, James mengemukakan bahwa gejala keagamaan itu berasal dari
kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri di
dalam kesadaran dengan cara yang berlainan. Barangkali di dalam bawah sadar
kita, kita menjumpai suatu relitas cosmis yang lebih tinggi tetapi hanya sebuah
kemungkinan saja. Sebab tiada sesuatu yang dapat meneguhkan hal itu secara
mutlak. Bagi orang perorangan, kepercayaan terhadap suatu realitas cosmis yang lebih
tinggi merupakan nilai subjektif yang relatif, sepanjang kepercayaan itu
memberikan kepercayaan penghiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan
damain keamanan dan kasih kepada sesama dan lain-lain.
James
membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktekkannya
dalam pendidikan. Pendidikan menghasilkan orang Amerika sekarang. Dengan kata
lain, orang yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang
adalah William James dan John Dewey. Apa yang paling merusak dari filsafat
mereka itu? Satu saja yang kita sebut: Pandangan bahwa tidak ada hukum moral
umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final. Ini berakibat
subyektivisme, individualisme, dan dua ini saja sudah cukup untuk
mengguncangkan kehidupan, mengancam kemanusiaan, bahkan manusianya itu sendiri.
2.
John Dewey
(1859-1952 M)
Sekalipun
Dewey bekerja terlepas dari William James, namun menghasilkan pemikiran yang
menampakkan persamaan dengan gagasan James. Dewey adalah seorang yang
pragmatis. Menurutnya, filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia
serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktifitasnnya untuk
memenuhi kebutuhan manusiawi.
Sebagai
pengikut pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan
pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam
pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya.
Dewey lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme. Pengalaman
adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Oleh karena itu
filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara aktif-kritis.
Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun sistem norma-norma dan
nilai-nilai.
Instrumentalisme
ialah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari
konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam
bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana
pikiran-pikiran itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran itu
berfungsi dala penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman yang mengenai
konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
Menurut
Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey
dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita
namakan instrumentalisme. Pertama, kata “temporalisme” yang berarti bahwa ada
gerak dan kemajuan nyata dalam waktu. Kedua, kata futurisme, mendorong kita
untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin. Ketiga, milionarisme, berarti
bahwa dunia dapat diubah lebih baik dengan tenaga kita. Pandangan ini dianut
oleh William James.
D. Kritik-kritik
terhadap Pragmatisme
Kekeliruan
Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran :
1.
Kritik
dari segi landasan ideologi Pragmatisme
Pragmatisme
dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan
(sekularisme). Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan
pragmatisme, yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari empirisme. Dengan
demikian, dalam konteks ideologis, Pragmatisme berarti menolak agama sebagai
sumber ilmu pengetahuan.
Jadi,
pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan tengah di antara dua
sisi pemikiran tadi. Penyelesaian jalan tengah, sebenarnya mungkin saja
terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda (tapi masih mempunyai asas yang
sama). Namun penyelesaian seperti itu tak mungkin terwujud di antara dua
pemikiran yang kontradiktif. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan.
Yang pertama, ialah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia,
alam semesta, dan kehidupan. Dan dari sinilah dibahas, apakah Al Khaliq telah
menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk
melaksanakannya dalam kehidupan, dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah
mati mengenai keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq ini.
Sedang
yang kedua, ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Dan dari sinilah dapat
dicapai suatu kesimpulan, bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari
kehidupan, tapi bahkan harus dibuang dari kehidupan.
2.
Kritik
dari segi metode pemikiran
Pragmatisme
yang tercabang dari Empirisme nampak jelas menggunakan Metode Ilmiyah, yang
dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran, baik yang
berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan.
Ini adalah suatu kekeliruan.
3.
Kritik
terhadap Pragmatisme itu sendiri
Pragmatisme
adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang
dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi.
Pertama,
Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan
praktisnya. Kebenaran suatu ide adalah satu hal, sedang kegunaan praktis ide
itu adalah hal lain. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu
dengan realitas, atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar
yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sedang kegunaan praktis
suatu ide untuk memenuhi hajat manusia, tidak diukur dari keberhasilan
penerapan ide itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka,
kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya
menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia .
Kedua,
pragmatisme menafikan peran akal manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide
adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu.
Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah
identifikasi instinktif. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran
kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi ukuran
kebenaran sebuah ide. Maka, pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas
intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata
lain, pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang
dihasilkan dari identifikasi instinktif .
Ketiga,
pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan
perubahan subjek penilai ide –baik individu, kelompok, dan masyarakat– dan
perubahan konteks waktu dan tempat. Dengan kata lain, kebenaran hakiki
Pragmatisme baru dapat dibuktikan –menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah
melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Dan
ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Maka, pragmatisme berarti telah
menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya
sendiri.
E. Implementasi
Aliran Filsafat Pragmatisme
Dalam
pelaksanaannya, pendidikan pragmatisme mengarahkan agar subjek didik saat
belajar di sekolah tak berbeda ketika ia berada di luar sekolah. Oleh
karenanya, kehidupan di sekolah selalu disadari sebagai bagian dari pengalaman
hidup, bukan bagian dari persiapan untuk menjalani hidup. Di sini pengalaman
belajar di sekolah tidak berbeda dengan pengalaman saat ia belajar di luar
sekolah. Pelajar menghadapi problem yang menyebabkan lahirnya tindakan penuh
dari pemikiran yang relative. Di sini kecerdasan disadari akan melahirkan
pertumbuhan dan pertumbuhan akan membawa mereka di dalam beradaptasi dengan
dunia yang berubah. Ide gagasan yang berkembang menjadi sarana keberhasila.
1.
Instrumemtalisme
Dewey
berpendapat bahwa berpikir sebagai alat untuk memecahkan masalah. Dengan
demikian maka ia mengesampingkan penelitian ilmu murni yang secara langsung
berkaitan dengan kehidupan konkret.
2.
Eksperimentalisme
Kita
menguji kebenaran suatu peoposisi dengan melakukan percobaan. Dengan demikian
maka tidak ada kebenaran yang pasti dan dapat dijadikan pedoman dalam
bertindak. Misalnya: suatu UU terus menerus diuji. Lantas, kapan masyarakat
bisa menjadikan UU itu sebagai pedoman untuk bertindak? Pendek kata dalam hidup
bermasyarakat, kita memerlukan kebenaran yang ditetapkan, bukan terus-menerus
diuji.
3.
Pendidikan
Dewey
menekankan pendidikan formal berdasarkan minat anak-anak dan pelajaran
yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan minat anak-anak. Dengan pandangan
yang demikian maka pelajaran yang berlangsung di sekolah tidak difokuskan
karena minat setiap anak itu berbeda-beda. Demikian juga dengan
pelajaran-pelajaran pokok yang harus diajarkan kepada anak-anak tidak dapat
diterapkan dengan baik.
4.
Moral
Penolakan
dewey terhadap gagasan adanya final end berdasarkan finalis kodrat manusia dan
sebagai gantinya ia menekankan peran ends-in-view, membuat teorinya jatuh pada
masalah ”infinite regress” (tidak adanya pandangan yang secara logis memberi
pembenaran akhir bagi proses penalaran. Karena adanya final end yang berlaku universal
ditolak dan yang ada adalah serangkaian ends-in-view maka pembenaran terhadap
ends-in-view tidak pernah dilakukan secara defenitif. Akibatnya tidak ada tolak
ukur yang tegas untuk menilai tindakan itu baik atau tidak
Model
pembelajaran pragmatisme adalah anak belajar di dalam kelas dengan cara
berkelompok. Dengan berkelompok anak akan merasa bersama-sama terlibat dalam
masalah dan pemecahanya. Anak akan terlatih bertanggung jawab terhadap beban
dan kewajiban masing-masing. Sementara, guru hanya bertindak sebagai
fasilitator dan motivator. Model pembelajaran ini berupaya membangkitkan hasrat
anak untuk terus belajar, serta anak dilatih berpikir secara logis. Sebagaimana
yang diungkap oleh Power (Sadulloh, 2003:133) bahwa, implikasi dari filsafat
pendidikan pragmatisme terhadap pelaksanaan pendidikan mencakup tiga hal pokok.
Ketiga hal pokok tersebut, yaitu:
·
Tujuan
Pendidikan, tujuan pendidikan pragmatisme adalah memberikan
pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi.
·
Kedudukan
Siswa, kedudukan siswa dalam pendidikan pragmatisme merupakan
suatu organisasi yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk
tumbuh.
·
Kurikulum, kurikulum
pendidikan pragmatis berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Demikian pula
minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum.
Guru menyesuaikan bahan ajar sesuai dengan minat dan kebutuhan anak tersebut.
·
Metode, metode
yang digunakan dalam pendidikan pragmatisme adalah metode aktif, yaitu learning
by doing (belajar sambil bekerja), serta metode pemecahan masalah (problem
solving method), serta metode penyelidikan dan penemuan (inquiri and
discovery method). Dalam praktiknya (mengajar), metode ini membutuhkan guru
yang memiliki sifat pemberi kesempatan, bersahabat, seorang pembimbing,
berpandangan terbuka, antusias, kreatif, sadar bermasyarakat, siap siaga,
sabar, bekerjasama, dan bersungguh-sungguh agar belajar berdasarkan pengalaman
dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai.
·
Peran Guru. Peran
guru dalam pendidikan pragmatisme adalah mengawasi dan membimbing pengalaman
belajar siswa, tanpa mengganggu minat dan kebutuhannya.
Selain hal
di atas, pendidikan pragmatisme kerap dianggap sebagai pendidikan yang
mencanangkan nilai-nilai demokrasi dalam ruang pembelajaran sekolah. Karena
pendidikan bukan ruang yang terpisah dari sosial, setiap orang dalam suatu
masyarakat juga diberi kesempatan untuk terlibat dalam setiap pengambilan
keputusan pendidikan yang ada. Keputusan-keputusan tersebut kemudian mengalami
evaluasi berdasarkan situasi-situasi sosial yang ada.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pragmatisme berasal dari kata pragma
(bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran
yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar
dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
Filsuf yang terkenal sebagai tokoh
filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey.
Seperti dengan aliran-aliran
filsafat pada umumnya, pragmatisme juga memiliki kekeliruan sehingga
menimbulkan kritik-kritik terhadap aliran filsafat ini. Kekeliruan pragmatisme
dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran:
(1) kritik dari segi landasan ideologi pragmatisme,
(2) kritik dari segi metode pemikiran, dan
(3) kritik terhadap pragmatisme itu sendiri.
Pragmatisme memandang bahwa siswa
merupakan organisme rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh,
sedangkan guru berperan untuk memimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa
ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Damsar.2012. Pengantar Sosiologi Pendidikan.Jakarta
: Kencana Media Prenada Group
http://filsafatpendidikanpragmatisme.blogspot.co.id/ (
diakses pada tanggal 20 November 2019 pukul 11.20 WIB )
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/07/pragmatisme-dalam-pendidikan/ (
diakses pada tanggal 20 November 2019 pukul 11.20 WIB )
https://www.kompasiana.com/gusmira/5900538e5097734078e70eb6/latar-belakang-lahirnya-pragmatisme ( diakses
pada tanggal 22 November 2019 pukul 22.10 WIB )

0 Response to "makalah filsafat pragmatisme"
Posting Komentar