PEMEROLEHAN BAHASA



A. Arti Pemerolehan Bahasa.

            Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung didalam otak seseorang kanak-kanak ketika ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Yang di maksud dengan bahasa ibu adalah suatu sistem linguistik yang pertama kali dipelajari secara alamiah dari ibu atau keluarga yang memelihara seorang anak. Bahasa ibu lazim disebut sebagai bahasa pertama singkat B1, karena bahasa itulah yang pertama kali dipelajari seorang anak, kalau seorang anak kemudian mempelajari bahasa lain yang bukan bahasa ibunya, maka bahasa lain yang dipelajarinya itu disebut bahasa kedua (B2). Andai anak mempelajari bahasa luasaan lain lagi,maka bahasa yang terakhir itu disebut bahasa ketiga (B3),begitu seterusnya. Ada kemungkinan si anak mempelajari bahasa keempat kelima dan seterusnya.

            Chaer (2003), menjelaskan bahwa ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya itu terjadi dua proses, pertama proses kompetensi dan kedua proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan.

            Proses kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performasi yang terdiri dari dua proses, yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua jenis proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan menjadi kemampuan linguistik kanak-kanak tersebut. Jadi kemampuan linguistik terdiri dari kemampuan memahami dan kemampuan melahirkan dan menerbitkan kalimat-kalimat baru yang dalam linguistik transformasi generatif disebut perlakuan, atau pelaksanaan bahasa, atau performasi.

            Berdasarkan teori Chomsky, kompetensi mencakup tiga komponen yaitu, komponen syntaks, komponen semantik, dan komponen fonologi. Karena itu pemerolehan bahasa itu lazim juga disebut pemerolehan semantik, pemerolehan syntaks dan pemerolehan fonologi. Ketiga komponen ini diperoleh secara bersamaan.

            Pranowo (1996) menyebutkan bahwa pemerolehan bahasa pertama oleh kanak-kanak memiliki karakteristik :

(a) Proses terjadi secara ambang sadar (sub-consiousness) .

(b) Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki sangat alamiah seperti penutur aslinya.

(c) Proses penguasaan ini tidak bisa dihindari karena bahasa dikuasai dan dibutuhkan untuk hidup.

(d) Anak tidak memiliki pengetahuan  tentang kaidah bahasa.

(e) Tidak diperkuat dengan pengajaran dan koreksi.

B. Hipotensis Pemerolehan Bahasa.

     1. Hipotensis Nurani

            Hipotensis ini menjelaskan bahwa setiap penutur asli dari suatu bahasa mampu memahami dan membuat kalimat-kalimat dalam bahasanya karena bahasanya itu telah “menurani” atau menyimpan dalam nuraninya” akan tata bahasanya menjadi kompetensi  (pelaksanaan) bahasa itu. Jadi dalam pemerolehan bahasa, jelas yang di peroleh oleh kanak-kanak adalah kompetensi dan performasi bahasa pertamanya itu. Kemudian karena tata bahasa itu terdiri dari komponen syntaks,semantik,dan fonologi,dan setiap komponen itu berupa kaidah-kaidah,maka tiga macam inilah yang terlebih dahulu yang dikuasai oleh kanak-kanak dalam pemerolehan bahasa. Dan menurut chomsky hipotesis nurani inilah yang dijadikan alat oleh kanak-kanak dalam memperoleh kemampuan berbahasa itu, chomsky menyebutkan dengan the innate hypothesys.

            Chomsky sebagaimana yang dikutip Chaer menjelaskan bahwa hipotesis nurani lahir dari beberapa pengamatan yang dilakukan beberapa pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak. Pengamatan tersebut adalah:

1. semua kanak-kanak normal akan memperoleh bahasa ibunya asal saja “diperkenalkan”       pada bahasa ibunya itu,artinya tidak diasingkan dari kehidupan keluarganya.

2. anak-anak yang cerdas dan anak-anak yang tidak cerdas sama-sama dapat memperoleh bahasa.

3. kalimat-kalimat yang di dengar kanak-kanak seringkali tidak gramatikal, tidak lengkap dan jumlahnya sedikit.

4. bahasa tidak dapat diajarkan kepada makhluk lain, hanya manusia yang dapat berbahasa.

5. proses pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak dimanapun sesuai dengan jadwal yang erat kaitannya dengan proses pematangan jiwa kanak-kanak.

6.struktur bahasa sangat rumit,kompleks,dan bersifat universal. Namun, dapat dikuasai kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat, yaitu dalam waktu antara tiga atau empat tahun saja.

            Jadi, manusia lahir dengan dilengkapi oleh suatu  alat yang memungkinkan dapat berbahasa dengan mudah dan cepat.lalu, karena sukar dibuktikan secara empiris, maka pandangan ini mengajukan suatu hipotesis yang disebut dengan hipotesis nurani (innate = dibawa sejak lahir, berada didalam,semula jadi ).

            Simanjuntak dalam Chaer menjelaskan,ada dua  hipotesis nurani. Pertama : hipotesis nurani bahasa yaitu satu asumsi yang menyatakan bahwa sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia. Kedua, adalah hipotesis nurani mekanisme, hipotesis ini menyatakan proses pemerolehan bahasa oleh manusia ditentukan oleh perkembangan kongnitif umum dan mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan pengalaman. Hipotesis nurani bahasa menekankan terdapatnya sesuatu “benda” nurani yang dibawa sejak lahir. Yang khusus  untuk bahasa dan berbahasa, chomsky dan muller menyebutnya dengan LAD (Language Acquisition Device), yang berfungi untuk memungkinkan seorang anak memperoleh bahasa ibunya. Dengan hipotesis LAD ini memperkuat pandangan para ahli pemerolehan bahasa bahwa kanak-kanak sejak lahir telah diberi kemampuan untuk memperoleh bahasa dari ibunya. Berdasarkan fakta ini juga memperkuat kesimpulan Eva Clark bahwa kanak-kanak dapat menguasai sintaksis bahasanya, karena dibekali suatu mekanisme nurani yang khusus untuk bahasa bagi tujuan pemerolehan bahasa. Hipotesis nurani mekanisme pula terdapat suatu “benda” nurani berbentuk mekanisme umum untuk semua kemampuan manusia. Bahasa dan berbahasa hanya sebagian saja dari yang umum itu.

            Dewasa ini hipotesi nurani bahas lebih dikenal dengan Nania, yang diusulkan oleh Mc Neil (1970),hipotesis kemestaan linguistik ( strongs linguistik universal ), atau versi kuat nurani (strongs versions universal), atau versi kuat nurani (strongs versions of the innatev-ness hyphotesis. Sedangkan hipotesis nurani mekanisme mendapat nama baru yaitu kemestaan linguistik lemah (weak libguistic universals) atau versi lemah hipotesis nurani.

            Menurut versi kuat (Chomsky, 1970) dalam chaer,keupayaan linguistik tidak menggambambarkan keupayaan kognitif sama sekali. Sebailiknya versi lebah, keupayaan kognitif umum, keupayaan linguistik tidak akan terujud. Umpamanya Bever (1970) mengatakan unsur-unsur struktural bahasa universal tertentu dapat menggambarkan hambatan-hambatan kognitif umum, tetapi tidak menunjukkan struktur lingguistik nurani yang khusus. Hal ini menunjukkan bahwa hambatan-hambatan kognitif umumlah yang membatasi unsur-unsur struktural bahasa universal. Pandangan yang sama dikemukakan oleh Slobin (1971) yang mengatakan bahwa mungkin penentuan arah perkembangan linguistik universal didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai arah perkembangan kognitif universal. Kesesuaian kedua pandangan di atas dengan teori perkembangan kognitif universal. Kesesuaian kedua pandangan di atas dengan teori perkembangan kognisi piaget (1964) sangat jelas. Piaget dalam teorinys mengatakan bahwa perkembangan bahasa bergerak dari dan merupakan bagian dari perkembangan bahasa bergerak dari dan merupakan bagian dari perkembangan kematangan kongnitif umum kanak-kanak.

            Pengkajian perkembangan pemerolehan  bahasa berdasarkan pengkajian perkembangan  kognisi pada beberapa tahun terakhir telah maju dengan pesat, dan dalam hal ini dari perkembangan kognisi piaget sangat memegang peranan penting. Namun demikian, penemuan-penemuan terakhir dalam neuropsikolinguistik dan dalam pengkajian biologi bahasa telah membangkitkan kembali minat ahli-ahli dalam versi kuat hipotesis nurani,tetapi dengan penekanan pentingnya peranan semantik dalam proses perkembangan bahasa ini.

            Penemuan-penemuan baru neoropsikolinguistik menujukkan bahwa sewaktu lahir kanak-kanak telah lengkapi dengan bagian otak yang khusus untuk bahasa dan berbahasa yang disebut “pusat-pusat bahasa dan ucapan”.

2.Hipotesis tabularasa.

            Tabularasa secara harfiah berarti “kertas kosong”, dalam arti belum ditulis apa-apa. Lalu, hipotesis tabularasa ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong, yang nanti akan ditulis atau diisi dengan pengalaman pengalaman. Hipotesis ini pada mulanya dikemukakan oleh John Locke seorang tokoh empirisme yang sangat terkenal, kemudian dianut dan disebarluaskan oleh John Watson seorang tokoh terkemuka aliran behaviorisme dalam psikologi.

            Teori pembelajaran bahasa pelaziman operan menyatakan bahwa perilaku berbahasa seseorang dibentuk oleh serentetan ganjaran yang beragam-ragam yang muncul disekitar orang itu. Seseorang kanak-kanak yang sedang memperoleh sistem bunyi bahasa ibunya, pada mulanya akan “mengucapkan” semua bunyi yang ada pada semua bahasa yang ada didunia ini pada tahap berceloteh (babling period). Namun , orang tua sibayi atau kanak-kanak itu hanya dulazimkan hanya menirukan bunyi-bunyi dari bahasa ibunya saja. Maka dengan demikian sibayi hanya dilazimkan menirukan bunyi-bunyi dari bahasa ibunya saja. Lalu, sibayi mengabungkan bunyi-bunyi yang telah dilazimkan itu untuk menirukan ucapan-ucapan orang tuanya. Jika tiruan itu betul atau mendekati ucapan yang sebenernya , maka dia akan mendapat “hadiah” dari ibunya berupa senyuman,tawa, ciuman, dan sebagainya. Bisa dikatakan bahasa kanak-kanak itu berkembang setahap-demi setahap, mulai dari bunyi, kata, frasa, dan kalimat.

3. Hipotesis Kemestaan Kognitif

            Dalam kognitifisme hipotesis kemestaan kognitif yang diperkenalkan oleh piaget telah digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses pemerolehan bahasa kanak-kanak. Piaget sendiri sebenernya tidak pernah secara khusus mengeluarkan satu teori mengenai pemerolehan bahasa karena beliau menganggap bahasa merupakan satu bagian dari perkembangan kognitif (intelek) secara umum piaget hanya mengkaji perkembangan kognitif umum ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " "

Posting Komentar